Pengertian, Tujuan dan Pola Konsumsi

Pengertian, Tujuan, Pola, Macam, Kegunaan, dan Nilai Konsumsi sebagai Kegiatan Ekonomi - Agar dapat bertahan hidup dan merasakan kenyamanan manusia harus melakukan konsumsi. Untuk memperdalam wawasan tentang konsumsi kita akan mempelajari pengertian, tujuan dan pola serta mempelajari kegunaan dan nilai dari suatu benda/barang


Pengertian Konsumsi
Dalam kehidupan sehari-hari kata konsumsi selalu dikaitkan dengan kegiatan makan dan minum. Di suatu pesta sering muncul ucapan, “konsumsinya sangat memuaskan” atau “sayang sekali konsumsinya tidak memuaskan”. Pengertian konsumsi seperti ini tidaklah salah, tetapi masih belum lengkap.

Lalu, apa sebenarnya pengertian konsumsi menurut ilmu ekonomi? Apakah menurut kalian kegiatan memakai sepatu bisa disebut sebagai konsumsi? Bila tidak, lalu kegiatan memakai sepatu termasuk kegiatan apa? Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan konsumsi adalah kegiatan manusia yang mengurangi atau menghabiskan guna barang atau jasa yang ditujukan langsung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perhatikan tabel kegiatan konsumsi berikut.

Pengertian dan Kegiatan Konsumsi

Pengertian dan Kegiatan Konsumsi 1


Lalu, apakah contoh kegiatan konsumsi yang bisa menghabiskan guna jasa? Contohnya adalah meminta penjelasan guru, meminta nasihat dokter, mengikuti kursus, memakai sopir pribadi, menyaksikan pertunjukan musik, dan lain-lain.

Tahukah kalian ada kegiatan manusia yang menghabiskan atau mengurangi guna benda tetapi tidak digolongkan sebagai konsumsi? Bahan baku dan bahan bakar, walaupun habis digunakan dalam proses produksi tidak boleh disebut sebagai konsumsi. Karena, bahan baku dan bahan bakar tersebut habis untuk memproduksi barang lain dan tidak digunakan langsung untuk memenuhi kebutuhan manusia. Demikian juga dengan pemakaian mesin, cangkul, palu, dan bangunan pabrik, walaupun benda-benda tersebut gunanya berkurang, pemakaiannya tidak boleh digolongkan sebagai konsumsi. Karena seperti dijelaskan dalam pengertian konsumsi, salah satu ciri konsumsi adalah ditujukan langsung untuk memenuhi kebutuhan manusia, tidak ditujukan untuk memproduksi barang baru.


Tujuan Konsumsi
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat diketahui bahwa tujuan konsumsi di antaranya adalah:
a. memenuhi kebutuhan jasmani/fisik, contoh: makan, minum, disuntik, dan lain-lain;
b. memenuhi kebutuhan rohani, contoh: menyaksikan hiburan, meminta petunjuk ulama, dan lain-lain;
c. mendapat penghargaan dari orang lain.

Kadang kala orang mengonsumsi barang atau jasa bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga ingin mendapat penghargaan/pujian dari orang lain. Contoh, orang memakai mobil mewah selain untuk memenuhi kebutuhan akan mobil, juga ingin mendapat penghargaan dari orang lain.


Pola Konsumsi
Pola konsumsi adalah susunan kebutuhan seseorang terhadap barang dan jasa yang akan dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, yang dipenuhi dari pendapatannya.

Pola konsumsi tiap orang berbeda-beda. Orang yang berpendapatan tinggi berbeda pola konsumsinya dengan orang yang berpendapatan menengah, berbeda pula dengan orang yang berpendapatan rendah. Pola konsumsi direktur berbeda dengan konsumsi karyawan. Pola konsumsi guru berbeda dengan pola konsumsi petani.

Perbedaan pola konsumsi tiap orang tidak hanya dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan, tapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
a. tingkat pendidikan/pengetahuan;
b. kondisi tempat tinggal iklim;
c. jenis pekerjaan;
d. tingkat peradaban bangsa;
e. kebiasaan dan kondisi sosial budaya masyarakat;
f. tinggi rendahnya harga barang dan jasa;
g. selera yang sedang berkembang di masyarakat.

Pola konsumsi orang berbeda-beda, tetapi secara umum dalam berkonsumsi orang akan mendahulukan kebutuhan pokok, baru kemudian memenuhi kebutuhan lainnya.


Pengertian Kegunaan dan Macam-Macam Kegunaan
Dalam kehidupan sehari-hari manusia mengonsumsi bermacam-macam benda/barang dan jasa. Benda yang dikonsumsi manusia di antaranya beras, kedelai, meja, kursi, payung, mobil, dan lain-lain. Benda-benda tersebut dikonsumsi dan diperlukan manusia karena benda-benda tersebut memiliki kegunaan (utilitas). Beras diperlukan manusia karena beras dapat ditanak menjadi nasi untuk dimakan. Kedelai diperlukan manusia karena dapat diubah menjadi tempe atau menjadi susu untuk dikonsumsi manusia. Jadi, yang dimaksud dengan kegunaan adalah kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kegunaan benda ada bermacam-macam.
a. Kegunaan dasar (element utility), yaitu benda memiliki kegunaan karena dapat dipakai untuk membuat barang lain.
Contoh:
1. Tebu sebagai bahan pembuat gula.
2. Kapas sebagai bahan pembuat benang.
3. Kedelai sebagai bahan pembuat tahu dan tempe.

b. Kegunaan bentuk (form utility), yaitu benda memiliki kegunaan bila diubah menjadi bentuk lain.
Contoh:
1. Kayu diubah menjadi kursi.
2. Kain diubah menjadi baju.
3. Kulit sapi diubah menjadi sepatu.

c. Kegunaan tempat (place utility), yaitu benda memiliki kegunaan bila dipindah ke tempat lain.
Contoh:
1. Batu di gunung diangkut ke kota sebagai bahan bangunan.
2. Pasir di desa diangkut ke kota sebagai bahan bangunan.
3. Sayur di kebun diangkut ke pasar untuk dijual.

d. Kegunaan waktu (time utility), yaitu benda memiliki kegunaan bila terjadi perubahan waktu.
Contoh:
1. Payung dan jas hujan menjadi berguna pada saat turun hujan.
2. Obat menjadi berguna pada saat jatuh sakit.
3. Baju hangat menjadi berguna pada saat musim dingin.

e. Kegunaan milik (ownership utility), yaitu benda memiliki kegunaan bila terjadi perubahan hak milik.
Contoh:
1. Ikan di laut menjadi berguna setelah ditangkap (dimiliki).
2. Buku di toko menjadi berguna setelah dibeli (dimiliki).

f. Kegunaan pelayanan (service utility), yaitu barang memiliki kegunaan bila ada pelayanan yang diberikan.
Contoh:
1. Televisi menjadi berguna bila ada siaran.
2. Angkutan umum menjadi berguna bila dijalankan.


Pengertian Nilai dan Macam-Macam Nilai
Setelah mempelajari kegunaan (utilitas), berikut kita akan membahas apa yang dimaksud dengan nilai. Bila kegunaan memiliki arti kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan manusia maka yang dimaksud dengan nilai adalah arti yang diberikan manusia terhadap benda karena benda tersebut dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia atau dapat ditukarkan dengan benda lain. Dari pengertian tersebut, diketahui ada dua macam nilai, yaitu nilai pakai dan nilai tukar.

Pemahaman terhadap nilai pakai dan nilai tukar sudah dikenal sejak zaman Aristoteles, seorang ahli filsafat Yunani. Aristoteles memberi contoh, bahwa sepasang sepatu memiliki nilai pakai dan nilai tukar. Sepatu memiliki nilai pakai, karena sepatu dapat dipakai untuk melindungi kaki. Sepatu pun memiliki nilai tukar karena sepatu dapat ditukar dengan sejumlah gandum.

Jadi, yang dimaksud dengan nilai pakai adalah nilai yang diberikan kepada suatu benda karena benda tersebut dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia. Adapun yang dimaksud dengan nilai tukar adalah nilai yang diberikan kepada suatu benda karena benda tersebut dapat ditukar dengan benda lain.

Nilai pakai terdiri atas nilai pakai objektif dan nilai pakai subjektif.
a. Nilai pakai objektif, yaitu kemampuan yang dimiliki benda karena benda tersebut dapat memenuhi kebutuhan manusia secara umum. (Catatan: nilai pakai objektif = kegunaan/utilitas).
Contoh:
1) Payung dapat dipakai untuk melindungi badan dari hujan.
2) Lemari dapat dipakai untuk menyimpan baju.
b. Nilai pakai subjektif, yaitu arti yang diberikan kepada benda karena benda tersebut dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhannya secara khusus.
Contoh:
1) Raket mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi pemain bulutangkis daripada bagi petani.
2) Jala mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi nelayan daripada bagi dokter.


Nilai tukar terdiri atas nilai tukar objektif dan nilai tukar subjektif.
a. Nilai tukar objektif, yaitu kemampuan yang dimiliki benda karena benda tersebut dapat ditukar dengan benda yang lain yang berlaku secara umum.
Contoh:
1) Beras dapat ditukar dengan sejumlah jagung.
2) Uang dapat ditukar dengan gula atau dengan barang lain.
b. Nilai tukar subjektif, yaitu arti yang diberikan kepada benda karena benda tersebut dapat ditukar dengan benda yang lain.
Contoh:
1) Menurut pemain bulu tangkis raket dapat ditukarkan dengan Rp400.000,- Tapi menurut petani, raket hanya dapat ditukar dengan uang Rp20.000,-.
2) Menurut kolektor barang antik, sebuah meja kuno Belanda dapat ditukar dengan uang Rp10.000.000,-, tapi menurut seorang nelayan meja tersebut hanya dapat ditukar dengan uang Rp100.000,-.

Agar lebih jelas, berikut disajikan bagan pembagian nilai.

Pengertian Nilai dan Macam-Macam Nilai

0 Response to "Pengertian, Tujuan dan Pola Konsumsi"

Post a Comment